Resensi film Nada Untuk Asa

image

Nada Untuk Asa

Pada tanggal 26 Januari kemarin, tepatnya di Epicentrum Mall telah diadakan launching film Nada untuk Asa. Asa, seorang gadis kecil yang cantik yang besar dengan penyakit mematikan bernama HIV yang diwariskan dari orang tuanya.

Bobby (Irgi fahrezi) telah menularkan virus tersebut kepada istri dan anaknya. Bobby meninggal karena kanker paru-paru. Tetapi dokter lain telah memvonis dia terkena virus HIV. Istrinya pun kaget karena selama itu istrinya menganggap suaminya baik-baik saja.

Asa (Acha Septriasa) mempunyai semangat untuk terus menjalani hidup. Walaupun di hidupnya dihadapkan dengan problema keasingan di lingkungannya.

“Aku adalah lulusan sarjana s2 kesedihan” begitu ungkapnya. Tetapi dia dengan tegarnya menghadapi hidup dan semangat untuk untuk mencapai cita-citanya. Asa mempunyai cita-cita membuka usaha toko kue online (eclair). Walaupun pada akhirnya tidak ada satupun orang yang mau membeli kue nya dikarenakan takut terjangkit virus HIV.

Asa dikeluarkan dari perusahaannya tempat dia bekerja, karena diketahui dia menderita penyakit HIV.

image

Nada Untuk Asa Scene

Nada (Marsha Timothy) yang merupakan ibu dari Asa mendapatkan penyebaran virus HIV dari suaminya (Irgi Fahrezi). Kehidupan mereka awalnya baik-baik saja. Akan tetapi setelah suaminya meninggal dan yang lebih mengejutkan, suaminya terkena HIV kehidupan mereka menjadi berubah 180 derajat.

Alur cerita yang disajikan yaitu flash back. Jadi otak kita akan berfikir dua kali apa makna yang diungkapkan didalam film ini.

Lanjut cerita, Asa ketemu dengan wisnu seorang pemuda yang mau menerima Asa apa adanya tidak terkait karena Asa menderita HIV.

Film karya Charles Gozali ini merupakan hasil kerjasama komunitas Sahabat Positif Kamsos KAJ dan Magma Entertainment. Terhadap mereka yang memiliki posisi lemah dalam kehidupan bermasyarakat.

image

Para pemain dan sutradara film Nada untuk Asa

Pelajaran yang mungkin tersirat dari film ini : tidak seharusnya kita memojokkan atau mengasingkan mereka yang menderita penyakit HIV. Sudah selayaknya kita merangkul mereka dan menyemangati mereka. Bahkan sekalipun mereka adalah keluarga kita sendiri.

image

Para audience di Bioskop XXI Epicentrum