Ayat Sajdah

image

Ayat Sajdah

Ayat Sajdah merupakan ayat-ayat khusus yang terdapat dalam Alquran yang apabila dibacakan baik itu orang yang mendengarkan maupun membacanya disunnahkan untuk melakukan sujud tilawah.

Ayat-ayat Sajdah berikut antara lain :
1. Ayat ke-206 dari Surah Al-A’raf
2. Ayat ke-15 dari Surah Ar-Ra’d
3. Ayat ke-50 dari Surah An-Nahl
4. Ayat ke-109 dari Surah Al-Isra’
5. Ayat ke-58 dari Surah Maryam
6. Ayat ke-18 dari Surah Al-Hajj
7. Ayat ke-77 dari Surah Al-Hajj, termasuk ayat sajdah menurut Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hambali
8. Ayat ke-60 dari Surah Al-Furqan
9. Ayat ke-25 hingga Ayat ke-26 dari Surah An-Naml
10. Ayat ke-15 dari Surah As-Sajdah
11. Ayat ke-38 dari Surah Fussilat
12. Ayat ke-62 dari Surah An-Najm
13. Ayat ke-21 dari Surah Al-Insyiqaq
14. Ayat ke-19 dari Surah Al-‘Alaq
15. Ayat ke-24 dari Surah Sad, tidak termasuk ayat sajdah menurut mazhab syafi’i dan mazhab Hambali, melainkan ayat yang disunnahkan untuk sujud tilawah bila dibacakan.

Adapun apabila kita mendengar salah satu dari ayat di atas, hendaklah membaca doa sebagai berikut:

ﺳﺠﺪ ﻭﺟﻬﻲ ﻟﻠﺬﻱ ﺧﻠﻘﻪ ﻭﺻﻮﺭﻩ ﻭﺷﻖ ﺳﻤﻌﻪ ﻭﺑﺼﺮﻩ ﺑﺤﻮﻟﻪﻭ ﻗﻮﺗﻪ

Sajada wajhiya lil ladzii kholaqohu washowwarohu wa syaqqo sam’ahu wabashorohu bihawlihi wa quwwatihi

Artinya: “Wajahku sujud kepada tuhan yang menciptakan, yang melukiskannya (membentuknya) yang memberi pendengaran dan penglihatan dengan daya serta kuasa-Nya.”

Sumber : Wikipedia

Mengingat Kematian

Hari ini minggu, 25-05-2014 telah aku ketahui ada yag meninggal 3 orang. Saudaraku di kampung, tetanggaku di jakarta dan ayah dari salah satu member komunitas BPI yg aku ikutin.

Ya Allah, semoga engkau mengampuni dosa mereka, diterima amal dan iman islamnya dan ditempatkan ditempatMu selayak-layaknya. Engkau yang maha menghidupkan dan mematikan makhluk.

Kita semua tau kita hidup di dunia ini hanya menunggu antrian saja. Yaa antrian kematian. Tidak ada yang tau kapan manusia akan dipanggil menghadapnya. Tidak ada yg tau pula siapa yg terlebih dahulu dipanggilNya.

Puji tuhan.. Hanya engkaulah yang berhak atas semua milikMu. Raga dan ruh ini sudah tidak ada artinya lagi jika engkau telah berkehendak. Hanya amal dan iman kita lah yang akan menghakimi kita di alam barzah nanti. Kehidupan kedua setelah hari ini.

Maafkan segala kesalahan hambamu ini ya Rabb.. Mungkin diri ini masih terdapat kesombongan, keangkuhan, kelalaian atas segala perintahMu.. Ampuni hamba, keluarga, guru, sahabat dan kerabat serta kaum muslimin dan muslimat di seluruh negeri ini.

Jangan berikan kami bencana akibat kesalahan kami ya Rabb.. Berikanlah hidayah saja. Agar kami bisa memperbaikinya dengan segera. Berikanlah kami kemakmuran di negeri ini, hindarilah negeri ini dari tangan orang-orang yang berniat untuk merusaknya. Barakalloh..

Sungguh.. Engkau maha segalanya :* inginku dapat pergi ke baitulloh menjadi tamu engkau ya Rabb.. Undanglah hamba.. Dan keluarga hamba dan semua orang-orang yang soleh.. 🙂

Jintan Hitam

image

Menurut sabda Rasululloh SAW :
“Terdapat banyak obat kesembuhan pada Jintan Hitam, kecuali kematian”.

Saya tidak sedang promosi dengan merk nya. Atau sedang buzzer terhadap produknya. Yang akan saya ceritakan disini adalah khasiat dari Jintan Hitam. Sesuai dengan apa yang diucapkan Nabiyulloh kita Muhammad SAW.

Bagi mereka yang sudah melakukan pengobatan modern terhadap penyakit anda, ada baiknya menambahkan mengkonsumsi Jintan Hitam beserta Madu untuk menyembuhkan penyakit anda. Serta dibarengi dengan doa yang baik terhadap kesembuhan penyakit kita dan selalu berfikir positif kalau Allah akan mengangkat penyakit yang kita derita.

Semoga kita semua selalu diberikan nikmat sehat dan hidup di sisa umur kita. Barakalloh 🙂

Doa Abu Nawas ketika ingin mendapatkan jodoh

Ada saja cara Abu Nawas berdoa agar dirinya mendapatkan jodoh dan menikah. Karena kecerdasan dan semangat dalam dirinya, akhirnya Abu Nawas mendapatkan istri yang cantik dan shalihah.

Sehebat apapun kecerdasan Abu Nawas, ia tetaplah manusia biasa. Kala masih bujangan, seperti pemuda lainnya, ia juga ingin segera mendapatkan jodoh lalu menikah dan memiliki sebuah keluarga.

Pada suatu ketika ia sangat tergila-gila pada seorang wanita. Wanita itu sungguh cantik, pintar serta termasuk wanita yang ahli ibadah. Abu Nawas berkeinginan untuk memperistri wanita salihah itu. Karena cintanya begitu membara, ia pun berdoa dengan khusyuk kepada Allah SWT.

“Ya Allah, jika memang gadis itu baik untuk saya, dekatkanlah kepadaku. Tetapi jika memang menurutmu ia tidak baik buatku, tolong Ya Allah, sekali lagi tolong pertimbangkan lagi ya Allah,” ucap doanya dengan menyebut nama gadis itu dan terkesan memaksa kehendak Allah.

Abu Nawas melakukan doa itu setiap selesai shalat lima waktu. Selama berbulan-bulan ia menunggu tanda-tanda dikabulkan doanya. Berjalan lebih 3 bulan, Abu Nawas merasa doanya tak dikabulkan Allah. Ia pun introspeksi diri.

“Mungkin Allah tak mengabulkan doaku karena aku kurang pasrah atas pilihan jodohku,” katanya dalam hati.

Kemudian Abu Nawas pun bermunajat lagi. Tapi kali ini ganti strategi, doa itu tidak diembel-embeli spesifik pakai nama si gadis, apalagi berani “maksa” kepada Allah seperti doa sebelumnya.

“Ya Allah berikanlah istri yang terbaik untukku,” begitu bunyi doanya.

Berbulan-bulan ia terus memohon kepada Allah, namun Allah tak juga mendekatkan Abu Nawas dengan gadis pujaannya. Bahkan Allah juga tidak mempertemukan Abu Nawas dengan wanita yang mau diperistri. Lama-lama ia mulai khawatir juga. Takut menjadi bujangan tua yang lapuk dimakan usia. Ia pun memutar otak lagi bagaimana caranya berdoa dan bisa cepat terkabul.

Abu Nawas memang cerdas. Tak kehabisan akal, ia pun merasa perlu sedikit “diplomatis” dengan Allah. Ia pun mengubah doanya.

“Ya Allah, kini aku tidak minta lagi untuk diriku. Aku hanya minta wanita sebagai menantu Ibuku yang sudah tua dan sangat aku cintai Ya Allah. Sekali lagi bukan untukku Ya Tuhan. Maka, berikanlah ia menantu,” begitu doa Abu Nawas.

Barangkali karena keikhlasan dan “keluguan” Abu Nawas tersebut, Allah pun menjawab doanya.

Akhirnya Allah menakdirkan wanita cantik dan salihah itu menjadi istri Abu Nawas. Abu Nawas bersyukur sekali bisa mempersunting gadis pujaannya. Keluarganya pun berjalan mawaddah warahmah.

Sumber : (detik.com), Kisah Teladan Islam