Baduy Tribe, Bahagia itu sederhana Part #3

Hey you… kaki awakkk sakit nian!! Ini kaki berasa abis dikoyak-koyak tadi di jalanan. Well.. aku gak pernah olahraga! Ini akibat yg harus aku rasakan karena berhasil membuat badan manja..

Aku gak bisa jalan.. ketika udah sampe di kampung Cibeo, Baduy Dalem. Hikssss.. alhasil.. aku menghalalkan segala cara untuk dapat ketemu mbak tukang urut.

Sambil menunggu antrian, aku sempatkan berbincang dg si pemilik rumah. Aku ceritain aja yak hasilnya.. soalnya percakapannya dalam basa sunda :p

Penduduk dan Lingkungan
Penduduk disana hanya sekitar 20-30 rumah. Dengan hanya mempunyai 99 kepala keluarga. Rumahnya yaitu masih terbuat dari kayu dan rotan (rumah panggung). Sebenarnya ya disana itu pemerataan penduduknya sama. Tidak ada yg membedakan si kaya dan si miskin.

Dan uniknya lagi, rumah yang mereka buat itu tidak menggunakan paku, palu, gergaji. Mereka membuatnya dengan menggunakan bedog (apa ya bahasa indonesianya).

Lingkungannya juga sangat asri dan adem buat penjernihan mata. Hal ini dibuktikan dengan sulitnya menjangkau lokasi yang memerlukan pendakian sekitar 4-5 gunung.. #huh

Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk Cibeo yaitu berladang. Knapa berladang? Disana itu mereka tidak membagi-bagi daerah ladang atau sawah. Tidak seperti di daerahku yg sama-sama sunda. Setiap orang yg mempunyai uang untuk membeli sawah, akan mempunyai sawah.

Tapi klo di Baduy Dalem, gak ada pemisahan daerah ladang atau sawahnya. Semua milik bersama. Klo misalnya orang yg rajin berladang, ya dia yg akan mendapatkan hasil alamnya.

Agama dan Kepercayaan
Agama dan kepercayaan masyarakat Baduy Dalem yaitu Sunda wiwitan. Hampir sama dengan agama islam pada umumnya, akan tetapi mereka tidak melakukan solat.

Mereka juga mempercayai segala hal kepada ketua suku yg dinamakan Pu’un. Pu’un itu yg mengatur segala bentuk aturan disana. Tidak sembarangan orang menjadi Pu’un, dan biasanya itu saling turun temurun.

Pu’un yg mengatur aturan, menikahkan penduduknya serta yg memberikan nama atau menyetujui nama terhadap bayi yg baru dilahirkan.

Adat Pernikahan
Pernikahan di Baduy sangat unik. Pasalnya perlu 3 kali melakukan lamaran dari seorang lelaki yg ingin melamar gadisnya. Pernikahan pun tidak sembarangan dilakukan. Jika si cowok dari Baduy Dalem harus menikah dg cewk Baduy Dalem juga.

Si cowok harus bekerja dirumah calon istrinya hingga perjodohannya direstui orang tua si calon istri. Seperti mengambil kayu bakar, membantu sang mertua, berladang, dll. Sehingga mereka disetujui oleh orang tuanya untuk menikah.

Resepsi pernikahanpun diadakan di kediaman pu’un. Dan yang lebih uniknya, yang dijadikan suguhan makanan harus berasal dari apa yang mereka tanam sendiri. Contohnya : nasi yang mereka berikan untuk perayaan pernikahan, kelahiran anak bayi dan kematian harus berasal dari hasil tanam mereka berladang. Sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari mereka biasanya membeli ke pasar.

Sama dengan tradisi sunda pada umumnya, mereka juga mengenal tradisi kelahiran(ngayun), kematian(3 na, 7 na, matang puluh) dan pernikahan/kehamilan(7 bulanan).

#foto menyusul

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s